Wednesday, November 12, 2008

Perlu peningkatan sumber daya manusia yang lebih beretika, cerdas dan humanis…..

Sebuah Catatan Pra Perjalanan Ke Lombok [ Episode-1 ] : Naik Taksi Blue Bird


Pengalaman ini saya dapatkan pada saat saya akan pergi ke bandara sukarno hatta, perjalanan dimulai dari area jl. Asmin ( jl. Tb simatupang / deket pom bensin pasar rebo / sesudah jalan baru sebelum makro pasar rebo ), tanggal 10 November 2008, jam 16.45 menunggu armada damri yang ke bandara , lama tidak muncul bus damri jurusan bandara yang saya maksud dan mencoba untuk mengejar waktu, saya mencoba untuk naik taksi blue bird dengan no. lambung MU1693 dengan nama pengemudi Junaidi Palima, Sekitar jam 17.15 taksi berjalan, dengan format standar sang sopir langsung menanyakan kepada saya “Langsung tol ya pak ? “, saya jawab iya pak., tak seberapa lama kemudian taksi kami bergerak melewati perempatan pasar rebo , setelah berhenti sebentar taksi meluncur lurus kea rah tol, tapi tol yang dituju oleh sang sopir tadi adalah tol ke arah cilandak – pondok indah -ciputat – bsd, pertama kali saya kaget, dalam hati saya “Kok lewat tol disini ya ?”, tapi saya percaya kan semua kepada sopir taksi blue bird tersebut, karena saya yakin sopir tersebut lebih jago mengenai jalan ke arah bandara, bahkan jalanan di Jakarta ini, saya duduk tenang sembari mencoba membaca majalah yang ada di dalam taksi tersebut, tentunya dengan perasaan yang gak enak, dalam hati saya “Jago bener nih sopir, mau lewat mana, barangkali tahu alternative yang cepat ke bandara..”, itu yang selalu saya bicarakan dalam hati saya, setelah berjalan hingga mendekati pintu tol lebak bulus, sopir tadi bertanya “ wah pak kayaknya saya salah jalan… “, kemudian saya tanyakan kembali “ lah bapak dah pernah ke bandara lewat sini belum “, sopir tadi menjawab “belum pak, kalo daerah sini saya belum tahu “, wuh… jantung ini terasa berdetak kencang mendapatkan jawaban seperti itu, terus saya katakan kepada sopir tadi “ Lah , bapak bilang gak tahu disini, kalo tadi bapak bilang tidak tau, saya kasih tahu, kalo bapak itu salah jalan, saya pikir bapak dah tahu dan cari jalan lain yang lebih cepet “, ya dengan klise nya sopir tadi Cuma bilang “maaf pak, saya masih baru, terus saya bilang “ bapak harus nya dari tadi ngomong, kalo tidak tahu , pasti saya kasih tahu, udahlah kalo gitu kita cari jalan untuk keluar tol “, kemudia sopir tadi cari jalan keluar tol, setelah keluar dari jalan tol , kalo gak salah kita keluar tol mau kea rah ciputat sesudah citos, kemudian kita putar balik dan masuk tol lagi ke arah cawang, setelah kita masuk tol dan saya bilang ke sopir “tolong pak agak cepeten dikit, waktu saya semakin habis “, sopir pun langsung tancap gas, dan selalu saya arahkan “ kita ara tol cawang “ untuk memberikan panduan kepada sopir tadi, setelah putar balik berjalan , kemudia melewati tol kampung rambutan, kita ketemu dengan percabangan, yang satu kea rah cawang/cililitan dan yang satu arah cilangkap/bogor, dan anehnya si sopir tadi menuju arah cilangkap/bogor, dalam hati saya hanya bilang “ gimana nih sopir, niat nggak sih “, beberapa meter kita nyasar ke arah cilangkap/bogor tersebut, sopir tadi bilang “ wah pak kayaknya salah lagi “, terus saya bilang “ ya udah pak, mundur aja pak”, sopir itu pun memundurkan taksi nya dan mengarahkan ke arah yang benar yaitu cawang/cililitan, setelah masuk tol cawang/cililitan kita bayar tol, saya suruh sopir itu untuk Tanya ke petugas operator tol “bapak tanya ke petugas tolnya, kalo mau ke bandara lewat mana, hal itu saya lakukan karena saya sudah jengkel dengan sopir tadi, biar si sopir tadi punya inisiatif untuk bertanya kalo tidak tahu, baik itu kepada penumpang atau kepada siapun yang mungkin lebih tahu, jangan hanya diam saja, setelah punya bad feel salah, baru bertanya “saya salah pak” dan tidak memberikan solusi alias solusi dikasih orang lain, setelah masuk bebarapa lintasan tol cawang/cililitan, selanjutnya mobil berjalan kencang ( karena sopir saya suruh berjalan agak kencang untuk mengejar waktu yang terbuang ), dan saya masih ingat, kita melewati cempaka ma situ kurang lebih 18.08, itu saya tahu dari jam yang terpasang diatas gedung gudang garam, dalam hati saya “wah habis nih..”, dan saya hitung dengan salah arah/jalan yang diakibatkan oleh sopir tadi waktu yang terbuang kira-kira 30-40 menit lah, sungguh waktu yang berharga disaat saya ingin mengejar waktu di bandara, setelah melewati jalan yang agak merayap di Jalan Tol Ir. Sedyatmo akhir nya saya tiba di bandara kira-kira 18.45, , setelah membayar atas argo taksi, si sopir memang minta maap “ map pak…dst…..”, kemudian saya bilang ke sopir tadi “ bapak lain kali, kalo tidak tahu, tanya sama penumpang, jangan hanya diam saja, giliran salah baru tanya, waktu saya banyak terbuang gara-gara bapak salah jalan dan gak mau bertanya “, si sopir tadi hanya menjawab “iya pak…”. Jawaban klise.. dan setelah mengucapkan terima kasih ( walau hati dongkol ), saya keluar dari taksi dan kemudian saya masuk ke terminal pemberangkatan dan mencoba untuk check-in, di salah satu maskapai penerbangan nasional, tepatnya di terminal 1A, setelah mencoba antri saya mencoba telpon adik yang ada di semarang, kira-kira jam 18.48 ( karena sampai tulisan ini dipubish , log/historik nya masih saya simpan ), pas giliran saya di depan loket check-in dan bercakap-cakap dengan petugas, begitu nelangsanya, karena saya dinyatakan telat, dan harus report ke bagian keterlambatan.


Memang apa yang saya tuliskan dan katakan diatas tidak lah akan mengubah apapun yang sudah ada dan yang sudah terjadi, saya telat, tidak bias ke mataram tanggal 10 November 2008, kesel ama sopir Blue Bird, lebih-lebih waktu yang terbuang percuma, saya sudah rugi secara moril ataupun material. Namun lewat surat ini saya berharap bahwa apa yang menimpa terhadap saya tidak akan terjadi pada penumpang lain, lebih-lebih kalo pihak manajemen Blue Bird mau untuk selelau meningkatkan kemampuan sumber daya manusia nya, sebagai contoh, dalam kasus saya diatas kalo memang si sopir itu tidak tahu, tidak perlu malu atau genggsi tanya lewat mana kepada customer, siapa tahu customer dapat memberikan informasi jalan mana yang paling cepat, selanjutnya dengan sumber daya infrastruktur yang ada di Blue Bird , karena yang saya tahu taksi di Blue Bird sudah menggunakan teknologi GPS, sehingga posisi taksi dapat terpantau, atau bisa saja sopir di pandu utuk melalui pesawat radio sehingga dapat memudahkan baik pihak sopir atau pihak customer, sehingga waktu tempuh, ataupaun perjalanan dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya, sehingga pelanggan tidak dirugikan oleh ulah si sopir yang sok tahu jalan, nyelonong kesana kemari yang akhirnya tidak sesuai jalannya yang pada akhirnya customer juga yang dirugikan.

Semoga saja pihak Manajemen Blue Bird bisa selalu memperbaiki, karena seperti apa yang tertulis di majalah Blue Bird yang say abaca waktu itu “ Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang meniup “ dan “Maap ternyata masih blue bird yang …..dst….”, semoga dengan pencapaian yang baik disaat ini bisa lebih baik disaat nanti, tentunya dengan pencitraan yang didapat dari pelayanan yang beretika, cerdas dan humanis kepada customer…


Semoga saja


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More